Friday, June 15, 2012

Bersyukur atau menyerah?

ujian akhir sekolah selesai. lega rasanya. sebagian beban sudah tidak menopang di pikiran ku. ku hirup udara segar. tidak seperti biasa, udara kali ini tidak membuatku sesak dengan jadwal ujian yang padat dan menjengkelkan. tapi, kesenangan itu hanya bertahan sementara. mungkin tidak sampai satu hari.

lembaran kertas putih itu bertebaran mencium papan biru itu. angka angka itu menampar keras wajah ku dan menyadarkan ku. aku mencari nama ku, tepat di setiap urutan nomor empat tertera nama ku beserta dua buah angka mengikuti. kuamati perlahan. tapi, mengapa aku menahan air mata ini? tapi memang, air mata tu tidak tergenang. air mata itu bersembunyi karena dia malu dan dia tau bahwa air mata ini akan membuat tangisan duka yang mengecewakan. jadi, ia bersembunyi.

angka sembilan ku di babat habis dengan angka lunglai bernama tujuh. angka lain pun tidak mau kalah, huruf pun mengikuti sambil membentuk barisan bertulisan remedial. jadi ini hasil usaha ku selama enam bulan bahkan satu tahun? aku bangun sebelum ayam jago membangunkan. setiap malam aku tidk pernah tidur di bawah jam 12malam. aku bangun pukul 4pagi hanya untuk menelan rumus-rumus trigonometri, listrik dinamis, dan redoks. itu kegiatan ku selama 7hari. guru-guru asik menegur dan berkomentar tentang bilai ku yang sangat turun jauh. apa masalahnya? kenapa bisa?

aku kecewa. kecewa pada hasil itu. kecewa pada diri sendiri. harapan bergabung dalam 3 besar kini seperti nya mustahil. aku tidak akan mendapatkan peringkat itu lagi. aku tidak akan mendengar ibuku mengatakan you deserve, i'm proud untuk yang kedua kali nya. kesempatan mengambil jalur undangan dan snmptn, gagal. AH! aku gagal kali ini. aku tidak kuat, ternyata air mata itu akhirnya keluar. tepat di depan mereka aku menangis. iya, mereka menyemangati. aku tenang, tapi hanya sementara saja. sampai pada saat nya aku sampai dirumah, ibuku berkata lewat salah satu jaringan sosial bagaimana hasil ulangan nya nak? entah mengapa aku sedih, karena aku tau aku tidak akan membuatnya lebih bangga. maaf ibu.

semoga ini adalah tahun terakhir  dimana aku merasakan kekecewaan yang besar. aku harap peluang 3 besar dan masuk kelas ipa terbuka lebar bagi ku. tapi aku memang tidak berharap banyak. aku harus bersyukur dengan apa yang aku dapat, alhamdulillah. dan aku akan menghilangan rasa malas dan mudah puas ini dengan cepat, bismillah.

No comments:

Post a Comment